(kisah sebelumnya)senyum adelia semakin memantapkan dirinya untuk menyandarkan perasaannya kepada Sang Kholik.
Minggu pagi,
pemuda komplek perumahan mengadakan sepeda santai bareng untuk keakraban antar tetangga.
Semua bersemangat dan bersenda gurau berkumpul di depan mushola.
Dari kejauhan tampak adelia mendekat dengan sepeda gunungnya.
Suasana yang sebelumnya ramai, salah satu dari mereka mendadak jadi dingin diam dan hanya merespon dengan senyum. Dialah nobel.
[caption id="attachment_1199" align="aligncenter" width="219" caption="Adelia"]

[/caption]
Di perjalanan pulang, ketika adelia mengayuh sepeda dengan sangat terlihat lelah, nobel mendekati adelia.
'hai del, capek ya?', senyum maut bagi adelia yang sangat jarang ia lihat.
Sesaat saja dunia serasa hanya ada adelia dan bunga2an yang bertebaran di sekelilingnya.
Udara panas dan lembab terasa angin sepoy dan wangi.
Namun hanya hitungan detik semua berlalu,,,
'ayo del, aku duluan ya,,,', nobel tersenyum berlalu mendahului adelia.
Sungguh kebahagiaan yang singkat. Sejak sekian lama saling bisu, akhirnya nobel memberikan sebuah surprise buat adelia.
Kebahagiaan demi kebahagiaan adelia tulis dalam lembar2 buku harian kesayangannya.
Ini sebagai ungkapan isi hati dan rindunya, dan hanya dirinya dan Tuhanlah yang membaca.
Dan adelia berharap, semoga kelak tak hanya sebuah catatan di atas putih.
'ya Allah, aku rindu nobel yang dulu'...
Bersambung...
Adelia (4)