(kisah sebelumnya)Senin siang hari yang terik sepulang sekolah.
Dengan langkah gontai adelia memasuki pagar rumahnya. Dilihatnya pintu rumah yang ngga biasanya tertutup rapat.
'pada kemana ya, kok sepi gini', adelia membuka kunci pintu dengan kunci cadangan yang dia punya.
[caption id="attachment_1199" align="aligncenter" width="219" caption="Adelia"]

[/caption]
Baru beberapa langkah memasuki kamar, telpon berdering...
'adel, ibu sama ayah di rumah sakit'...
'apa? ada apa bu?', adelia kaget.
'ini,, kak nobel kecelakaan. Ntar sore ibu pulang....tut... tut... tut,..'.
'hah? Bu,, halo...halo...', adelia tersentak, belum yakin dengan apa yang ia dengar.
Namun suara itu cukup jelas di telinga.
Tak terasa mata mulai berair. Tanganpun terasa berat mengangkat gagang telpon.
Entah apa yang ingin dia katakan. Hanya terdiam menunggu ibundanya pulang.
Segores demi segores menari di atas kertas putih curahan hati adelia.
Tak ada yang lain selain kpada Allah lah ia mengeluh.
'ya Allah, andai aku tahu lebih dulu dia akan Kau cobai dengan ini,
aku akan meminta padaMu perlindungan yang lebih untuknya agar Engkau bersedia membatalkan musibah untuknya.
Kuatkan dia Ya Allah.
Sesungguhnya dia hamba yang bertakwa yang akupun baru2 menemui n mengagumi seseorang setakwa dirinya.
Walaupun hanya di mataku saja ia sempurna.
Semoga di sisimu ia lebih dari itu dan selalu terjaga.
Ya Allah, andai aku bisa di sisinya detik ini, aku akan menungguinya hingga ia tersadar dan hingga aku yakin bahwa ia tak apa.
Aku muslimah.
Aku milikMu.
Izinkan aku menjaganya dengan doa hamba yang sangat tulus meskipun ia tak akan pernah tahu, bahwa kesembuhannya adalah doaku juga.
Aku takut ia kenapa.
Maka naungilah ia dengan selamat dan rahmatmu, sebab dengan berandai mendampinginyapun hanya akan menimbulkan fitnah dan sakit di hatiku.
Sembuhkanlah ia Ya Allah.
Dan tenangkanlah aku.
Sebab rasa ini memang hanya Engkau yang memiliki'.
Adelia tertidur di atas lembaran2 doanya.
Bersambung...
Adelia(5)