(Kisah Sebelumnya)Sore ini adelia sedikit membaik.
Dia sudah mendengar kabar bahwa tak ada yang parah dengan keadaan nobel.
Adelia sangat ingin menjenguknya.
Pucuk di cinta ulam tiba.
Maya sahabatnya menjemputnya untuk bersama2 menjenguk nobel.
Hati adelia tersenyum karna sebentar lagi berjumpa dengan teman kecilnya.
[caption id="attachment_1199" align="aligncenter" width="219" caption="Adelia"]

[/caption]
Di ruang rawat inap.
'makasih ya, udah jengukin.
Aku seneng kalian datang, bisa bikin aku ga sepi di sini. Trus siapa tadi yang kasih kabar kalo aku kena musibah?', nobel sedikit heran. Baru tadi siang kena musibah, sore harinya sudah banyak yang tahu.
'ibunya adelia lah, siapa lagi yang perhatiannya berlebih ke keluarga kamu selain mereka? Tadi aja mungkin adelia juga kawatir berat ke kamu. Hehe,,,', maya bicara panjang lebar dengan hebatnya.
Adelia terkejut, dengan malu2 mengangkat pandangan ke nobel,'eh iya mungkin ibundaku bel..', adelia menjawab dengan lemas dan senyum sungkan.
'oow,,,', singkat sekali jawaban yang nobel lontarkan.
Tanpa terima kasih atau kata apapun.
'hehe, udah udah. Kalian kaku banget. Ga biasanya. Dulu kayaknya rame n heboh gitu kalo lagi ketemu. Tapi dari hari ke hari kalian berdua kok jadi aneh ya. Diem gitu.'...
Adelian dan nobel tersentak.
Serasa sedang di dakwa dan diintrogasi.
'maaf, pasien harus diperiksa dan sudah waktunya istirahat.', seorang perawat memasuki ruangan memotong semua pembicaraan yang saat itu sedang memanas.
Ada kelegaan di dada nobel dan adelia.
'nobel cepat sembuh ya,,', adelia hanya dapat mengucapnya dalam hati, ketika ia dan teman2nya harus pulang membiarkan nobel istirahat.
Adelia beranjak paling belakang dan menyempatkan diri untuk menoleh sebelum ia benar2 berlalu.
Ada hasrat ingin tersenyum ketika lagi2 ia bertemu pandang dengan nobel. Ya, ternyata ada sedikit senyum di mata nobel yang mungkin juga mengisyaratkan rasa terimakasih atas kedatangan adelia.
Sayang sekali tak kunjung ia ucapkan.
Ia tak tahu bahwa adelia sebenarnya menanti kata itu sejak tadi.
Bersambung...
Adelia (6)