(Kisah Sebelumnya)'Alhamdulillah,
kamu tak apa.
Andai kamuu tahu, doaku juga menyertaimu.
Aku juga menitip pesan pada malaikat2 di sisimu, untuk tak lalai menjagamu. Ya, walaupun mereka memang tak pernah lalai untuk tugasnya itu.
Aku juga selalu mengemis pada Sang Kholik untuk selalu menjadikanmu hamba yang terlindungi.
[caption id="attachment_1199" align="aligncenter" width="219" caption="Adelia"]

[/caption]
Aku bahagia melihatmu sehat kembali.
Meskipun aku membalas senyummu dari balik tirai di jendela kamarku ketika kamu melangkahkan kaki ke rumah Allah untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.
Pagi buta aku sudah bangun tak hanya untuk menjaga waktu sholat, tapi dengan sedikit niat ingin mendengar kumandang adzanmu yang utuh.
Sungguh kamu semakin dekat dengan Robb dari hari ke hari.
Aku yang rela terakhir meninggalkan mushola setelah dhuhur ku tunaikan. Hanya ingin mendengarmu membaca AlQuran, meski 1 ayat saja.
Ya Allah, lelaki soleh kelak berdamping dengan wanita soleha.
Aku berdoa padaMu, jangan jodohkan dia dengan wanita pembangkang dan merepotkan baginya.
Aku tahu ini berat buatku, jika suatu ketika masa depan bisa memisahkan kisah2 indah.
Bahagiakan dia dimanapun dia meraih cita2.
Hanya padaMu lah aku berani mengaku, aku memang mencintainya.
Maka aku kembalikan rasa cinta ini. Aku akan menurut apa yang jadi takdir di laukhil mahfudz.'
halaman demi halaman adelia tulis dengan doa2 dan curahan hati pada Tuhan.
Cinta memang begini.
Indah namun menyakiti.
Bersambung...
Adelia (7)