(Kisah sebelumnya)[caption id="attachment_1199" align="alignleft" width="219" caption="Adelia"]

[/caption]
senja hari seperti biasanya, dia duduk di depan jendela kamarnya menunggui nobel lewat di depan rumahnya menuju ke masjid untuk beradzan dan menunaikan sholat maghrib.
'beginilah seorang wanita dibilang pahalanya jauh lebih sedikit dari laki2. Kaum wanita mau tidak mau harus cuti sholat wajib selama satu minggu,,, hmmm,,,', gumamnya sambil bertopang dagu.
Tok tok tok...
'adelia,,,! Ada surat untukmu....', ibu adelia mengagetkan lamunannya.
'iya bu, dari siapa? Makasih ya bu...', adelia membukakan pintu. Menerima surat dan dengan terburu2 adelia menutup pintunya kembali tanpa menunggu ibunya menjawab pertanyaannya. Ibu hanya menggeleng2 kepala meninggalkan pintu kamar adelia.
Ia berlari kecil kembali ke jendela, takut2 nobel segera berlalu sebelum adelia sempat melihatnya lewat di depan rumahnya.
Tiba2,
'Allahu akbar, Allahu akbar,,,,,', suara merdu nobel membahana ke angkasa.
'tuh kan telat,,,,,,', adelia cemberut kecewa.
Sejenak saja Suara adzan sang idola sanggup mengobati kekecewaan gadis belia ini dan sanggup melukis senyum di bibir mungilnya.
Sambil terus menikmati adzan kata demi kata, adelia membuka surat buatnya.
Buat Adelia nakal
di rumah.
Assalamualaikum wr.wb
gadis usil, bagaimana keadaanmu?
aku sangat yakin sekarang kamu udah beranjak dewasa dan tumbuh sebagai gadis yang anggun dan semakin bertakwa.
bagaimana pula kabar nobel, sahabatku dan juga rival kamu semasa kecil? :)
apa masih suka bertengkar?
Aku rindu dengan kalian.
Canda tawa kita ketika kita masih di bangku sekolah dasar.
Hehe, adelia,,,
aku juga rindu saat tiba2 kamu datang untuk berebut mainan dengan nobel dan aku jadi penengahnya.
Kalian lucu ya,,,
andai saja aku tak pindah rumah.
Aku pasti tumbuh dewasa bersama kalian.
Aku bisa jadi wasit di antara kalian.
Hehe tentunya tidak dengan adil.
Karna kamu beberapa tahun lebih muda di banding kami. Jika aku wasit yang adil, kamu tak akan pernah merasakan kemenangan. :)
adelia, titipkan salamku untuk keluargamu dan salamku untuk nobel sekeluarga.
Aku sangat rindu.
Terutama padamu, tetangga kecil yang manja.
Tunggu aku ya, suatu saat aku datang untuk kalian.
Terima kasih.
Wassalam.
Dari: Firman al-barri
Bersambung...
Adelia (8)